Wednesday, June 13, 2012

I BREAKING OF HABBITS


Oleh : Hendrasyah Putra

Sudah ganti makanmu, itulah kata-kata yang disampaikan oleh seorang pelawak (Tukul) yang membintangi salah satu iklan layanan masyarakat. Ketika menonton iklan layanan masyarakat yang beberapa minggu belakangan ini sering diputar pada stasiun televisi, terbesit dipikiran saya bahwa ada usaha dari pemerintah untuk mengganti kebiasaan atau mungkin ketergantungan bangsa Indonesia terhadap beras.
I breaking of habbits, sebuah lagu yang pernah di populerkan oleh Linkin Park ini terus memicu saya untuk lebih sensitive lagi dengan melihat realitas yang tentunya sangat mudah ditemukan dalam sebuah laboratorium raksasa yang kita sebut dengan Indonesia.
Ancaman akan pemanasan bumi, kekurangan pangan dan krisis bahan bakar telah menjadi hantu di seluruh dunia. Langkah-langkah strategis pun diambil oleh negara-negara dunia termasuk pula Indonesia.
Maka, dalam pada itu Presiden Yudhoyono mencanangkan Gerakan Nasional Penghematan Penggunaan Energi, sebagaimana dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono meminta agar gerakan hemat BBM dan listrik diikuti seluruh elemen masyarakat, termasuk unsur pemerintah pusat dan daerah.
Pers, melalui media cetak, elektronik dan televisi belakangan sempat menjadikan trending topik tentang Gerakan Nasional Penghematan Penggunaan Energi, hal ini terbukti dengan begitu banyaknya pemberitaan yang mengangkat kebijakan daerah atau Kepala Daerah yang menggunkan kendaraan umum dihari-hari tertentu untuk berangkat ke kantornya.


Mobil Dinas Presiden RI
Ketika kita berbicara tentang penghematan yang di himbau oleh pemerintah, adalah sebuah hal baik tetapi sayangnya sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Adalah sebuah Ironi dimana Pemerintah yang menghimbau untuk beririt akan bahan bakar minyak tersebut, tetapi mobil-mobil mewah seperti Mercedez-Benz, Toyota Crown, Toyota Corolla, Toyota Fortuner, Nissan Terrano, Nissan Extrail, Honda CR-V berkeliaran dengan menggunakan plat merah dan tentunya dengan konsumsi bahan bakar yang boros.

Tuesday, May 29, 2012

KOMITMEN ANTI KORUPSI?


Oleh: Hendrasyah Putra

Komitmen anti korupsi? Ya begitulah tanda tanya yang menghantui pikiran saya belakangan ini. Kata-kata “komitmen anti korupsi” kerap kali saya jumpai di media cetak/elektronik bahkan sampai dengan poster, spanduk dan pamflet.
Saya hanya bisa tertegun dan merenungkan kata-kata itu dalam hati sembari mengingat-ingat perilaku orang-orang Indonesia yang dalam kesehariannya begitu dekat dengan hal tersebut.
Sayapun jadi teringat dengan salah satu iklan siraman rohani disalah satu stasiun televisi swasta. Salah satu potongan dari iklan yang menampilkan para penceramah dalam acara siraman rohani tersebut, ada yang mengatakan bahwa untuk mengatasi korupsi hanya ada satu jalan, yakni “hukum mati”.
Kederangan memang sangat mengerikan, tetapi entah mengapa hati ini tidak begitu yakin dengan keberhasilan menekan jumlah korupsi di Indonesia dengan cara seperti itu.
Adalah penting bagi kita untuk sadar, bahwa tidak ada satu cara untuk melawan korupsi. Kita tidak bisa hanya berharap pada sisi penindakan dan memberikan kekuatan yang super pada KPK (Komisi pemberantasan Korupsi) untuk memberantas korupsi.

Sunday, April 8, 2012

NDAK SIAP & LKMD (Lebih Kurang Mohon Dimaklumi)



Oleh: Hendrasyah Putra


Ndak siap.... begitulah kata-kata yang masih terkenang dalam pikiran saya. Kata-kata itu sendiri mengingatkan saya ketika semasa duduk dibangku kuliah dahulu. Kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang dosen saya sewaktu memberikan kuliah studi kasus hukum perburuhan itu sebenarnya memiliki arti tersendiri bagi saya.
Sebuah arti yang begitu dalam maknanya dan juga menggelitik hati. Begitu dalam maknanya karena pada saat itu harusnya kami (mahasiswa) tentunya sudah siap sebelum mata kuliah itu dimulai. Apakah kesiapan itu dari sisi materil (substansi/materi kuliah) ataupun dari segi formil (kehadiran dalam ruang kelas).
Menggelitik hati, harusnya kami yang pada waktu itu mahasiswa, tentunya malu dengan ketidaksiapan kami ketika kuliah itu berlangsung. Oleh karena itu, kami begitu pantas menerima perkataan “Ndak siap” yang dicuapkan dengan sinis dan ditambah lagi dengan sebuah akronim LKMD, “lebih kurang mohon dimaklumi”. Lengkap lah sudah oleh-oleh yang diberikan dosen kami kala itu.

Fenomena Ndak Siap
Ndak siap, kini apa yang dahulu pernah dicuapkan dosen saya itu betul-betul menunjukkan sebuah wujud yang nyata. Selain menjadi ide dalam tulisan kali ini, kata-kata itu juga bagi saya bisa menggambarkan kondisi Indonesia dalam konteks yang kekinian.

Sunday, April 1, 2012

CINTA INDONESIA?



Oleh : Hendrasyah Putra

Awal April di Minggu pagi, setelah selesai memandikan bayi  dan bersiap untuk menulis, hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah tentang rasa cinta. Saya yang baru saja menjadi seorang ayah ini rasanya tak bisa jauh dari sang anak. Hal apapun akan saya tempuh untuk kebaikan si anak. Mungkin inilah salah satu ciri dari kecintaan dan rasa sayang seorang Ayah.
Berbicara tentang cinta, saya jadi teringat pada sebuah artikel sahabat karib saya. Artikel itu sendiri berjudul “Mereka Yang Rindu Kepada Allah”. Dalam artikel tersebut, sahabat saya menceritakan bahwa “Rindu merupakan pengejawantahan dari sikap mencintai seorang, tidak mungkin seorang yang sedang di landa kebencian memilikinya”.
Berbicara tentang cinta, saya jadi teringat kepada salah seorang triner yang selalu mengingatkan peserta didiknya untuk menggunakan produk dalam negeri. Baginya jika kita cinta Indonesia maka kita harus menggunakan produk dalam negeri.
Seperti jargon iklan salah satu produk pelumas keluaran Indonesia, “kita untung bangsa untung”. Secara rasional hal ini memang masuk akal. Dimana produk-produk Indonesia yang kita beli itu lebih banyak memberikan manfaat nya secara langsung maupun tidak langsung. Misalkan saja dari segi pajak, penyerapan tenaga kerja, meningkatnya investasi dan pengembangan teknologi dalam negeri itu sendiri.

Friday, March 23, 2012

Menanti Jatuh Tempo



Oleh: Hendrasyah Putra

Belum lama ini isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) begitu popular dimasyarakat. Kenaikan minyak dunia yang katanya di picu oleh perseteruan Barat dan Iran menjadi alasan yang cukup kuat untuk memotong subsidi BBM dan menaikan harganya.
Dua hari yang lalu, saya mendapatkan informasi tentang kondisi yang kiranya sudah bisa dipredeksi sebelumnya ketika isu kenaikan BBM muncul. Informasi itu sendiri saya dapati ketika chatting dengan sahabat saya yang berdomisili di Pontianak.
Menurut informasi yang dikatakan sahabat saya itu, terjadi antrean untuk mengisi BBM. Tudingan-tudingan miring atas perilaku antrean ini pun muncul.
Menimbun! Hal inilah yang pertama kali terlintas dalam diskusi pendek dalam sebuah chattingan antara saya dan sahabat saya. Bukannya ingin bermaksud buruk, tetapi cukup aneh ketika fenomena antrean ini terjadi dikarenakan “isu” atau rencana kenaikan BBM oleh pemerintah.
Jika antrean terjadi karena kelangkaan BBM, buruknya distribusi atau terjadinya bencana mungkin hal ini masih bisa di toleransi. Disinilah perilaku masyarakat yang sangat “opurtunis” kiranya dapat dengan mudah kita lihat. Menimbun BBM dan menjualnya ketika harga BBM naik tentunya hal ini kerap kali terjadi ketika momen-momen seperti ini muncul.
Tak Ada Bedanya
Ketika membaca media cetak elektronik yang memberitakan tentang rencana pemerintah menaikan harga BBM, saya kerap kali menemui cibiran, makian  dan kritik yang begitu tajam oleh para pembaca terhadap kebijakan pemerintah itu.

Wednesday, February 29, 2012

BUKAN RAHASIA



Oleh: Hendrasyah Putra

“Bukan rahasia bila segenggam kekuasaan lebih berharga dari sekeranjang kebenaran”
 “Bukan rahasia bila penguasa pun bisa merubah sejarah dan memutar balikkan fakta” (dewa19-Bukan Rahasia)

Sebelum memejamkan mata tadi malam, entah mengapa saya jadi teringat dengan sebuah lagu band favorit saya. “Bukan Rahasia”, sebuah lagu yang pernah populerkan oleh dewa 19 ini mengingatkan saya pada realitas yang ada.
Realitas adalah kenyataan yang terbalik, begitulah kira-kira seperti apa yang pernah disampaikan oleh seorang pemikir Jerman. Tesis ini kiranya kini begitu mengena dengan konteks Indonesia yang kekinian dimana realitas yang ada begitu terbalik dengan kata-kata indah yang tertuang dalam konstitusi.

Makelar: Bukan Rahasia Yang Tak Terungkap
“Ini negeri para makelar”, begitulah kira-kira pendapat Sutradara Garin Nugroho mengomentari kondisi indonesia dalam konteks kekinian yang termuat dalam kompas.com. pada 12 Januari 2012 yang lalu.
Dalam pemberitaan itu, Garin Nugroho juga mengomentari sinisme oknum-oknum tertentu tentang mobil Esemka yang belakangan menjadi perhatian kita tentang mimpi mobil nasional.
Dalam pemberitaan tersebut, Garin mengatakan ”Jadi, jangan heran kalau munculnya mobil Esemka itu kemudian ditanggapi dengan sinis oleh sebagian kalangan elite politik dan pengusaha. Mereka yang sudah terbiasa mendapat fee dari kegiatan makelarnya,”. “Wabah makelar, membuat kegiatan produktif di Indonesia kian langka. Elite politik lebih suka mengimpor barang dari luar negeri karena bakal mendapat fee”.

Tuesday, February 21, 2012

Hubungan Serangan Fajar dan Apel Washington


Oleh: Hendrasyah Putra

Ketika mengikuti pemberitaan di media cetak elektronik yang berjudul “Kesaksian Angie Tidak Sia-sia”, entah mengapa ketika saya membaca pemberitaan tersebut selalu tertarik untuk memperhatikan komentar-komentar para pembaca  yang berada dibawah kolom pemberitaan tersebut.
Walaupun kebanyakan komentar-komentar yang ditampilkan tersebut sangat menyudutkan Angie karena dituduh berbohong dalam memberikan kesaksian di pengadilan, tetapi hal ini memberikan saya sebuah inspirasi untuk bekerja pada sebuah proses keabadian.
Ide tulisan kali ini adalah saya ingin berbagi ide dan pengalaman serta pengamatan saya tentang pengertian politik “warung kopi”, dan pandangan mereka yang awam tentang citra buruk politisi yang sangat kental dengan stigma “bohong”.
Kisah Sang Petani dan Politikus
Dua tahun yang lalu ketika saya dan tiga orang teman sedang berkumpul disebuah rumah kos di kota Sintang. Ketika itu kami sedang berbicara dan berdiskusi tentang berbagaimacam topik. Saya pribadi yang begitu banyak dipengaruhi oleh sosiologi hukum ini secara tidak sadar seringkali bercerita tentang perilaku-perilaku bangsa didunia dalam menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah.
Panjang mendengar cerita saya tentang perilaku orang Jepang, Amerika, Korea dan Malaysia, akhirnya sampailah pada gilirian salah seorang teman saya yang begitu tertarik dengan trik-trik sulap dan tentunya juga forumer di kaskus untuk bercerita tentang sebuah kisah lucu yang didapatnya dalam forum tersebut.
Sambil memainkan kartu remi dan mengocoknya ia sembari bercerita tantang kisah “Petani dan Para Politikus”. Dalam kisah Petani dan Politikus itu, teman saya tadi menceritakan tentang sebuah bis  berisi  rombongan politikus yang baru saja mengadakan kampanye, tanpa diduga tiba-tiba Bus yang ditumpangi Politikus itu keluar dari jalan serta menabrak sebuah pohon besar milik petani tua.

Tuesday, February 14, 2012

SIAPA DULU BAPAKNYA



Oleh: Hendrasyah Putra

Sebenarnya saya agak sedikit malas bercerita tentang hukum di negeri ini. Mungkin rasa malas ini sebagaimana seperti pembaca sekalian rasakan tentang pergelutan hukum di Indonesia yang penuh dengan intrik dan hanya menjadi sebuah sinetron ”ala” Indonesia yang sangat mudah ditebak jalan ceritanya.
Dalam tulisan kali ini, sejatinya tulisan ini terinspirasi dari sebuah tulisan pendek pada sebuah blog sahabat saya Slamet Riyadi. Blog yang beralamat www.slamsr.com ini setidaknya bisa merenggut keterfokusan saya ketika sibuk membaca buku.
Tulisan Pendek yang berjudulkan ”The Punhiser – Ketika hukum tidak Punya taji” begitu menarik perhatian saya. Pada awalnya saya kira tulisan pendek tersebut menceritakan tentang film yang bertemakan pembalasan dendam oleh seseorang yang sanak keluarganya di bantai oleh komplotan penjahat yang kebal terhadap hukum.
Ketika saya lanjutkan membaca tulisan pendek tersebut, saya malah menemukan sebuah realitas sosial dan tentunya sebuah ide yang begitu membantu saya dalam menulis.
Dalam pada itu, bagi saya, yang membuat tulisan itu menjadi begitu menarik adalah ketika si penulis menuliskan kata-kata ”Gak kebayang andai saja KPK punya pasukan khusus yang beraksi seperti The Punisher ini, apakah masih ada koruptor pencuri uang rakyat yang tidur dengan nyenyak? Eh Saya cuma berandai-andai saja lho!”

Monday, January 30, 2012

The Have Versus The Have Not



Oleh: Hendrasyah Putra

Ada tamu dari Jakarta
Saya sempat kaget ketika membaca status teman pada akun jejaring sosialnya. Dalam satus itu ia menceritakan  bahwa dia terpaksa tidak lagi bisa menikamti secangkir “kopi pancong” di Jalan Hijas, hal ini dikarekan “ada tamu dari Jakarta” yang mau datang ke warung kopi itu.
Sepertinya kata-kata “ada tamu dari Jakarta” tersebut begitu sakti, sehingga teman-teman saya ini terpaksa menyingkir dan meninggalkan warung kopi tersebut.
Saya tidak begitu heran melihat fenomena ini. Dalam konteks Indonesia yang kekinian, memang hal ini sedikit banyak bisa menjelaskan bahwa di negeri ini pembagian kelas-kelas dalam masyarakat begitu jelas. Secara garis besar, pengalaman rekan saya diatas menggambarkan golongan “the have” memiliki kemampuan untuk menyingkirkan golongan “the have not”.
Antara delapan juta dan dua ratus ribu rupiah
Kenyamanan Sosial bagi seluruh golongan “the have” makin menyeruak ketika pada Jumat lalu, tepatnya 27 januari 2012  di Jakarta diadakan peluncuran smartphone tertentu yang harganya mencapai delapan juta hingga sembilan juta rupiah. Walaupun harga smartphone tersebut tergolong cukup tinggi, tetapi antrian golongan “the have” untuk mendapatkan smartphone keluaran terbaru tersebut begitu panjang.
Disisi lain, tak jauh dari antrian smartphone tersebut, ribuan buruh melakukan aksi demontrasi  demi menaikan upah yang dianggap kurang memanusiakan buruh. Perjuangan ini begitu berat, ribuan buruh ini menempuh cara dengan berdemontrasi dan dengan cara paksa memasuki jalan Tol dengan menggunakan kendaraan roda dua. Cara ini dilakukan hanya untuk meminta kenaikan upah sebesar dua ratus ribu rupiah.
Ironi memang, tetapi inilah fenomena yang muncul dinegeri ini dengan Pancasila sebagai dasar negaranya.
Bahasa Indonesia di Paris
Saya semakin prihatin ketika membaca berita pada media online (Republika.co.id) yang berjudul “Mengharukan, Kisah Imam 'Tukang Sampah' di Jakarta Ditayangkan Televisi Inggris BBC”.
Isi dari pemberitaan itu sendiri adalah BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Monday, January 23, 2012

CARA AMAN ALA INDONESIA (Berimajinasi Secara Ekstrem)



Oleh: Hendrasyah Putra

Beberapa waktu yang lalau, ketika saya berselancar didunia maya dan mengunjungi situs berita naional (Republika.co.id, 18 Januari 2012), saya sempat sedikit “sumringah” ketika membaca pemberitaan bahwa Indonesia masuk dalam pemberitaan media luar negeri (Dailymail, Inggris).
Tapi sangat disayangkan, persaan senang itu hanya sesaat, hal ini dikarena apa yang diberitakan tersebut bukanlah suatu hal yang bisa dibanggakan. Dalam pemberitaan tersebut diberitakan tentang bagaimana cara orang Indonesia menyelesaikan masalah penumpang yang naik ke atas Kereta Api Listrik (KRL). Dalam pemberitaan tersebut, Dailymail menceritakan upaya Indonesia dalam mengatasi penumpang nakal tersebut melalui tulisan yang berjudul “Duck! Indonesia suspends grapefruit-sized concrete balls above railway lines to stop 'roof riders”.
Dalam pemberitaan di media nasional tersebut, diberitakan pula tentang pendapat Dailymail, yang baginya Indonesia harus berimajinasi secara “ekstrem” untuk mengatasi para penumpang naik ke atap kereta. Bagi mereka, pihak otoritas mengembangkan taktik yang terkesan sangat intimidatif dan 'mematikan' berupa menggantungkan bola-bola besi di atas lintasan kereta.
Menjadi menarik bagi saya ketika di akhir pemberitaan media nasional tersebut juga menceritakan tentang pendapat atau komentar para pembaca Dailymail yang memberikan respons beragam di antaranya ada yang mempertanyakan mengapa tidak ada kebijakan memberikan tarif yang lebih murah atau memasang paku di atap kereta. Bahkan, ada pula yang terkesan sinis. ''Inilah gaya aman ala Indonesia.''

Sunday, January 15, 2012

PRIBAHASA ITU MENYIMPAN KEMUNAFIKAN


Oleh: Hendrasyah Putra

Menjadi perhatian saya ketika melihat tulisan di papan pengumuman yang bertuliskan ”kerjakan yang kamu tuliskan dan tulislakan yang kamu kerjakan”. Ditempelnya kata-kata mutiara ini mengingatkan saya dengan salah satu konsep HAM (Hak Asasi Manusia) dalam hal kebebasan berekpresi.
Dalam konteks demokrasi dan penegakan HAM di Indonesia, tentu konsep-konsep kebaikan seperti itu tak ada salahnya untuk dituangkan kedalam sebuah teks.
Uang. Ya uang, lagi lagi uang. Kata-kata ini selalu mengalir dipikiran saya ketika melihat perilaku buruk orang Indonesia yang berseberangan dengan teks yang mereka (atau kita) tuliskan dalam teks-teks indah itu.
Pada akhir tahun 2011 lalu, saya sempat ke Ibu kota negara. Untuk menghemat anggaran, tentu pilihan jasa angkutan Bus Way menjadi pilhan utama saya.
Setahun tak menggunakan jasa angkutan tersebut, perubahan yang signifikan dan ke”khasan” gaya orang Indonesia begitu dominan.

Sunday, January 8, 2012

TIDAK CUKUP RUMPI


Oleh: Hendrasyah Putra

                Satu minggu ini saya hampir-hampir tak sempat untuk membaca buku dan menulis artikel. Minggu lalu, orang terdekat saya tertimpa musibah. Karena kondisi yang extra ordinary tersebut, maka saya terpaksa harus meninggalkan hobby saya itu.
Sebelum lebih jauh lagi, sejatinya artikel ini terinspirasi oleh teman sejawat saya ketika kami berbicara tentang gadget dan spesifikasi yang ditawarkan. Teman sejawat saya ini pun sempat menceritakan pengalamannya mengapa ia tidak menggunakan smartphone BlackBerry yang kini begitu menjamur. Baginya, ia “tidak cukup rumpi” untuk menggunakan smartphone tersebut.
Mungkin baginya, istilah tidak cukup rumpi tersebut dipakainya untuk menggambarkan fasilitas BlackBerry mesangger  yang dimiliki smart phone tersebut.
        Istilah tidak cukup rumpi ini mengingatkan saya ketika tahun lalu tentang kisruh persepakbolaan Indonesia. Kisruh itupun memunculkan sebuah guyonan tentang penelitian FIFA terhadap orang Indonesia. Isi dari guyonan penelitian itu sendiri adalah tentang keadaan fisik orang Indonesia dimana kondisi tulang rahang orang Indonesia lebih dominan daripada bagian tubuh yang lainnya. Oleh karena itu, orang Indonesia lebih cocok menjadi komentator sepakbola daripada pemain sepakbola.
        Guyonan ini bagi saya memang menggelikan, tetapi disisi lain guyonan ini menggambarkan orang Indonesia yang begitu baik dalam wacana, cantik diatas kertas tetapi selalu buruk dalam perilaku. “Mungkin” karena alasan ini pula smartphone BlackBerry begitu diigemari di negeri ini.

Monday, December 26, 2011

REFLEKSI AKHIR TAHUN (KEMBALI KE FITRAH)


Oleh: Hendrasyah Putra


Refleksi akhir tahun. Ya begitulah kira-kira ide yang terlintas di pikiran saya ketika dihadapkan dengan masa-masa penghujung tahun seperti saat ini. Tulisan ini sejatinya ingin mengambarkan cerminan Indonesia masa lalu dan harapan saya terhadap Indonesia kedepannya seperti kata-kata “kembali ke fitrah” diatas.
Pada kesempatan kali ini, sebelumnya ijinkan saya untuk mengucapkan keprihatinan saya atas kejadian di Bima dan Mesuji (Lampung). Untuk itu, dari hati saya yang paling dalam saya mendo’akan agar para korban dari peristiwa tersebut mendapat tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Esa dan semoga pertumpahan darah yang telah membasahi bumi Indonesia ini tidak kembali terulang.
Baiklah, kembali pada tulisan kali ini dan pada artikel-artikel sebelumnya, sesungguhnya saya ingin memberikan sisi lain dari keterfokusan kita selama ini kepada struktur dan substansi. Kultur, adalah dimana saya lebih menekankan sudut pandang dari semua artikel-artikel saya.

Sunday, December 18, 2011

TIDAK CUKUP BIJAK


Oleh: Hendrasyah Putra

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang-bincang dengan rekan-rekan saya yang kebetulan mengabdikan dirinya sebagai pelayan publik. Dalam kesempatan itu, saya sempat bertanya dan menceritakan kritikan saya tentang buruknya pelayanan publik di negeri ini dalam sebuah tulisan saya yang berjudul “Buku Ikhlas”. 
Dalam perbincangan itu, saya juga menceritakan secara umum kritikan saya terhadap perilaku playan publik dalam hal pungutan liar dan pamrih dalam melayani masyarakat .
Perbincanganpun kemudian berlangsung menarik, tanpa kami sadari perbincangan itu menjadi sebuah diskusi yang mengasikkan. Dalam diskusi tersbut saya mencoba mengemukakan pendapat saya seperti yang saya tuliskan dalam tulisan saya diatas. Menurut hemat saya faktor penyakit hati adalah penyebab munculnya pungutan liar  dan pamrih dalam pelayanan publik.
Disisi lain, dalam diskusi tersebut saya pun mendapatkan fenomena baru dimana munculnya biaya administrasi (versi pelayan publik) adalah disebabkan oleh karena adanya “kebijakan”.

Wednesday, December 7, 2011

STATUSKU (YANG SETIA DENGAN KEJUJURAN)


Oleh: Hendrasyah Putra

Tulisan kali ini sejatinya secara tak sengaja terinspirasi dari status yang saya buat pada akun sosial media milik saya. Kejadiannyapun sangat begitu spontan. Diawali dengan sebuah telepon pemberitahuan dari rekan kerja saya dan semua unek-unek yang ada dalam hati inipun tertuang begitu saja dalam kata-kata yang tertulis dalam status itu.
Isi dari status itu sendiri secara garis besar adalah dimana saya mengatakan saya bisa lulus ujian untuk mendapatkan kualifikasi tertentu dengan cara yang jujur. Selain itu, dalam status itu berisikan pula pendapat saya yang meremehkan orang-orang yang dengan cara curang untuk mendapatkan kualifikasi itu.
Dalam tulisan kali ini, saya memang sengaja tidak memberikan dengan jelas ujian apa yang saya ikuti dan kualifikasi apa yang saya dapati atas kelulusan itu. Hal ini sendiri sengaja saya lakukan mengingat Indonesia dalam “konteks kekininan” belum siap untuk menerima kenyataan atau lebih tepatnya dalam bahasa populernya “buruk rupa cermin dibelah”.

Sunday, December 4, 2011

GAYA INDONESIA


Oleh: Hendrasyah Putra

Gaya Indonesia. Terdengar bisikan “suka berperkara” secara spontan dari hati kecil ini. Apakah benar demikian gaya orang Indonesia? Mungkin terlalu ekstrem apa yang saya katakan itu, bukannya tanpa alasan, bagi saya fenomena yang sering tampil menjadi hot topik dalam pemberitaan bisa menjawab pertanyaan saya itu.
Suka berperkara, setidaknya hal ini menjadi temuan saya ketika membaca artikel yang berjudul “Kebutuhan Jasa Pengacara Meningkat di Indonesia” (www.businessnews.co.id).
Dalam artikel tersebut diceritakan bahwa Peningkatan perkara korupsi di Indonesia yang dibawa ke pengadilan memberi dampak multiplier effect terhadap kebutuhan jasa pengacara. Temuan Transparency International (TI) menyebutkan IPK Indonesia menduduki posisi ke-110 dari 178 negara yang disurvei.
Ketika membaca artikel tersebut, saya agak merasa aneh ketika membaca pemberitaan yang bersisikan “Sehingga pengacara papan atas seperti OC Kaligis mengakui bahwa semakin banyak masyarakat sadar hukum, sementara negara masih belum bisa memberi rasa keadilan. “Orang datang ke sini (kantor Kaligis) hampir setiap hari, kami tidak pernah cari client. Sampai hari ini, orang masih minta terus (jasa pengacara). Pengabdian itu, kalau saya masih sanggup, saya teruskan. Saya tidak bisa menolak, walaupun staf saya juga kadang bingung dengan kesediaan saya (menerima mereka) terus menerus”.
Dalam artikel itu, saya coba untuk menggali lebih jauh mengenai kesadaran hukum masyarakat yang dimaksud itu. Memang secara teoritis kesadaran hukum itu sendiri dibagi menjadi dua. Pertama adalah kesadaran hukum postif dimana kita lebih mengenalnya dengan istilah ketaatan hukum. Kemudian yang kedua adalah kesadaran hukum negatif, dimana identik dengan  ketidaktaatan hukum yang bisa disebabkan ketidaktahuan atau seseorang tahu perbuatannya salah tapi tetap dilakukan juga.

Monday, November 28, 2011

Butuh Pendidikan Moral



Oleh: Hendrasyah Putra

Eforia dan keributan, dua hal yang selalu berdampingan menghiasi berbagai peristiwa di negeri ini. Bangsa ini pun seakan sudah begitu maklum dengan keributan yang selalu timbul mengiringi sebuah eforia. Ketika eforia masyarakat sampai pada klimaksnya terhadap pencapaian tim sepak bola Indonesia, kisruh tentang buruknya penjualan tiket sampai dengan aksi para pembeli tiket yang paling kuatlah yang mendapatkan tiket seakan menjadi pasangan yang begitu serasi di negeri ini.
Berbicara masalah budaya antre, Saya jadi teringat ketika masih duduk dibangku SD dan SMP dimana untuk masuk keruangan kelas siswa diharuskan terlebih dahulu berbaris rapi. Guru pengajar memperhatikan dengan jeli barisan siswa yang hendak masuk keruangan. Makin rapi dan tertib barisan, maka makin cepat pula kami masuk keruangan kelas untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Jika melihat pengalaman itu, saya pikir kita semuua sudah tau tentang baiknya menjaga ketertiban dan keteraturan.
Ketika jaman orde baru, dahulu kita mengenal yang namanya penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Ketika pertama kali masuk SMP, saya masih sempat mendapatkan penataran P4. Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya apa pentingnya hal itu. Mungkin ketika pancasila yang pada saat itu menjadi asas tunggal di negeri ini, menjadi suatu keterpaksaaan untuk mengikuti penataran P4 itu.
Terlepas dari segala kontroversi tentang penerapan pancasila sebagai azas tunggal, saya pribadi mempunyai pengalaman tersendiri ketika mengikuti penataran P4 yang diwajibkan itu. Ketika mengikuti penataran itu, secara umum kami diajarkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tolong menolong, saling menghormati dan musyawarah mufakat.
Selain itu, kami juga diajarkan untuk membedakan mana yang menjadi hak dan mana yang menjadi kewajiban. Dahulu saya sempat berfikir, apa pentingnya hal itu. Ketika itu muncul pertanyaan dalam hati saya, kenapa kegiatan belajar mengajar tidak langsung dilaksanakan? Kenapa harus bertele-tele dan kembali diajarkan hal-hal yang dahulu pernah saya pelajari ketika SD dalam pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila)?
Kini pertanyaan saya itu sedikit demi sedikit sudah mulai terjawab dengan perilaku buruk bangsa ini. Kini begitu mengerikan. Degradasi moral, itulah kira-kira yang coba saya gambarkan dari perilaku buruk yang selalu menghiasi pemberitaan utama di televisi. Semangat akan selaras akan alam dan semangat akan kekeluargaan kini hanya menjadi pemanis dalam iklan komersial ditelevisi.
Dasar negara kita memang masih tetap Pancasila. Upacara hari-hari besarpun tetap dibacakan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan pancasila. Tapi hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan tragedi final sepak bola SEA Games 2011yang memakan korban.
Targedi itupun menimbulkan aksi saling menyalahkan yang sering kali dipertontonkan oleh bangsa ini. Penonton menyalahkan panitia yang tidak profesional dalam menyelenggarakan dan tentunya  panitia juga tak mau kalah, bagi panitia kesalahan penonton yang tidak mempunyai tiket ikut antre untuk masuk ke stadion Gelora Bung Karno sehingga menyebabkan perebutan untuk masuk kedalam stadion menjadi semeraut dan berakhir chaos.
Saya hanya bisa mengerutkan kening dan menaikan alis ketika membaca berita disalah satu media cetak onliane yang berjudul “Penjualan Bellagio Ricuh, 4 Orang Pingsan, 1 Patah Tulang” (www.kompas.com). Dalam berita tersebut, diceritakan bahwa kericuhan dalam pembeliaan alat komunikasi itu di picu oleh gelang sebagai penanda sebagai calon pembeli yang sah tidak berlaku lagi. Sehingga antrean yang telah dibuat pun berubah menjadi chaos bagaikan singa dan hyna yang berebut daging hewan buruan.
Perilaku seperti ini kiranya berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan akan jasa advocat di negeri ini. Dalam artikel yang berjudul “Kebutuhan Jasa Pengacara Meningkat di Indonesia” (www.businessnews.co.id) diberitakan bahwa Peningkatan perkara korupsi di Indonesia yang dibawa ke pengadilan memberi dampak multiplier effect terhadap kebutuhan jasa pengacara. Temuan Transparency International (TI) menyebutkan IPK Indonesia menduduki posisi ke-110 dari 178 negara yang disurvei. Dalam pemberitaan tersebut dikatakan pula bahwa tingginya kebutuhan akan advocat menjadi sebuah indikator tentang tingginya tingkat kesadaran hukum masyarakat.
Hal seperti ini menjadi mengerikan. Menjadi mengerikan dimana apa yang dibutuhkan bangsa ini adalah advocat yang diharapkan bisa menyelesaikan perkara-perkara yang timbul. Dan menjadi sangat mengerikan dimana fenomena penggunaan jasa advocat ini dinyatakan menjadi sebuah indikator tingginya tingkat kesadaran hukum masyarakat.
Bagaimana mungkin masyarakat dikatakan sadar hukum jika masyarakat sangat suka bersengketa. Bagamana mungkin kesadaran hukum meningkat jika untuk antre saja kita tidak bisa tertib. Kita seakan sudah lupa bahwa perilaku buruk dinegeri ini disebabkan karena rusaknya moral.
Entah mengapa bangsa ini menjadi tidak jelas. Kita seakan tidak mempunyai jati diri. Kita mengaku bukan komunis, bukan juga kapitalis. Tapi secara perilaku kita bukan juga pancasila. Dalam pengamatan saya, negara kapitalis atau komunis sekalipun tidak pernah kisruh ketika melakukan antre untuk hal yang remeh-temeh, kecuali dalam keadaan bencana (terkecuali dalam kasus Jepang).
Dahulu saya memang tak begitu memahami mengapa penekanan pendidikan dan pemahaman tentang moral menjadi begitu penting. Dahulu saya tidak mengerti mengapa pembukaan Undang-Undang Dasar dan Pancasila selalu dibacakan ketika Upacara berlangsung. Sampai pada akhirnya perilaku bar-bar yang seringkali tampil menjadi sebuah jawaban tentang betapa pentingnya pendidikan moral.
Kini semua itu sudah terjawab dan menjadi begitu jelas. Inilah fakta dimana kita begitu baik diatas kertas dan begitu indah dalam retorika, tetapi kita selalu buruk dalam perilaku.

Thursday, November 24, 2011

Mungkin Sudah Ditinggalkan



Oleh: Hendrasyah Putra


Sudah dapat saya perkirakan kisruh yang akan timbul ketika hari raya Idul adha berlangsung. Kisruh yang seakan hanya sebuah pengulangan setiap tahunnya dari setiap pembagian daging kurban kiranya sudah dimaklumi oleh kita semua. Hal ini kiranya menambah daftar panjang dalam kisruh-kisruh yang terjadi seperti dalam mendapatkan BBM (bahan bakar minyak), zakat dan sembako.
Ketika kecil, saya masih ingat betul ketika guru SD (sekolah dasar) saya yang menceritakan bahwa Indonesia itu begitu terkenal didunia internasional dengan perilaku ramah, tolong-menolong dan gotong-royongnya. Kini keadaan sudah berubah. Cerita tentang perilaku ramah, tolong menolong dan gotong royong kini telah menjadi dongeng. Kini klaim atas hal itu semua digugat  dengan perilaku kita atas terciptanya kesemerautan dan kisruh yang timbul.
Budaya timur, begitulah kira-kira adagium yang akan membuat orang-orang barat dahulu menjadi segan dan kagum dengan orang Indonesia. Ketika disebut budaya timur, tentunya kata tersebut akan menimbulkan kesimpulan tentang budaya malu, ramah, saling menghormati dan tolong-menolong.
Egois, tentunya akan sangat jauh dari bayangan kita dalam sebuah konsep budaya timur. Dahulu saya sempat beranggapan sifat egois dan individualistik itu hanya cerminan dari negara-negara barat yang terkenal dengan paham liberalnya itu.
Kini anggapan saya itu telah pudar. Saya begitu kaget ketika mendengar sebuah cerita dari dosen yang juga senior saya tentang pengalamannya ketika kuliah di Australia. Dalam percakapannya dengan saya, ia menceritakan bahwa di Australia itu tidaklah begitu kental dengan individualisme.
Disana ia mendapati sebuah fenomena. Fenomena dimana barang-barang yang masa kadaluarsanya sudah hampir habis dibagikan atau digratiskan begitu saja oleh si pemilik tokoh. Tentunya hal ini begitu berbanding terbalik dengan Indonesia. Saya sendiri sering kali menemukan minuman ringan di mini market yang sudah kadaluarsa masih dipajang dalam rak-rak penjualan.
Dalam hati, saya jadi bertanya-tanya. Sebenarnya siapa yang lebih mengerti semangat akan budaya ketimuran itu? Dan bagaimana dengan paham liberal yang diteriakan oleh negara-negara barat?
Dalam tanda tanya saya itu, saya kembali dikejutkan dengan sebuah pemberitaan di media massa lokal Kal-Bar yang berjudul “Buku Dikembalikan Setelah Dipinjam 25 Tahun”.
Dalam pemberitaan tersebut diceritakan bahwa Seorang perempuan di Virginia (Amerika Serikat) mengembalikan buku yang sudah dipinjamnya sejak tahun 1986 alias 25 tahun lalu. Buku itu sendiri  dikembalikan selama ada program pengampunan. Program itu membebaskan denda bagi orang-orang yang terlambat mengembalikan buku perpustakaan. Mereka hanya diminta menyumbangkan makanan.
Hal yang menarik dalam cerita tersebut adalah Si Peminjam buku berterima kasih dengan dibuatnya program pengampunan tersebut, karena hal tersebut telah membuat rasa bersalah Si Peminjam buku hilang dan memiliki kesempatan untuk menebusnya.
Saya kira perilaku untuk menebus kesalahan sebagaimana yang digambarkan pada kisah nyata diatas tentunya patut kita acungi jempol. Hal ini menjadi begitu menarik ketika perilaku penebusan kesalahan tersebut terjadi di Amerika Serikat yang sebagaimana kita ketahui adalah negara yang menganut liberalisme.
Pada tulisan saya sebelumnya, saya seringkali membandingkan perilaku orang Indonesia dengan orang Jepang. Mungkin saya hanya melihat dari satu sisi kesamaan tentang asia dan budaya ketimurannya saja. Pada titik ini, ternyata hal-hal yang berbau ketimuran itu juga bisa muncul dengan baik dinegara-negara barat.
Mungkin kini terjawab sudah mengapa budaya malu di Indonesia ditinggalkan. Mungkin kisruh yang sering kali timbul itu dikarenkan kita lebih suka dengan individualisme dan liberalisme. Mungkin kita lebih suka semangat Pancasila itu tercermin di negara-negara liberal. Mungkin kita lebih baik dalam berwacana daripada menjalankannya. Dan mungkinkah Indonesia akan bangkit jika kita lebih senang seperti ini?

Perintah Dari Kursi Goyang



Oleh: Hendrasyah Putra

Beberapa waktu yang lalu saya mendapati sebuah fenomena yang unik tetapi kerap kali terjadi. Fenomena itu sendiri adalah dimana ketika saya melihat seorang anak umur empat tahun melawan perintah orang tua nya. Kejadian itu sendiri terjadi dimana ketika orang  tua si anak memarahinya dan kemudian si anak balik melawan dengan mengatakan ”eh mama ni marah-marah jak”. Aksi saling jawab pun berlanjut, orang tua si anak pun berbicara dengan nada tinggi seraya mengatakan ”siape yang ngajarkan kau ni, ngelawan orang tua ngomong, comel kau ni”.
Tentunya orang tua mana yang tak jengkel jika perintahnya dilawan. Bagi saya peristiwa ini tidak aneh. Saya malah mencurigai peristiwa tersebut. Dalam hati saya mengatakan, sepertinya ada yang tidak beres dalam ke jadian tersebut. Bagaimana mungkin seorang anak umur empat tahun bias memberikan perlawanan terhadap orang tuanya? Perilaku siapa yang ditiru anak tersebut kalau bukan orang terdekat dan setiap hari dilihatnya?
Peristiwa diatas mengingatkan saya ketika melihat seorang anak yang menerima perintah untuk belajar dan pergi sholat fardhu ke mesjid. Anak itu selalu menggerutu ketika menerima perintah itu. Umumnya, orang dewasa tentunya mengerti jika perintah sholat fardhu berjamaah ke mesjid itu baik. Tetapi apa yang terjadi pada anak tersebut adalah sebaliknya, anak tersebut malah mempertanyakan perintah untuk pergi ke mesjid. Anak tersebut menanyakan mengapa harus dia yang pergi, tetapi yang memerintahkan tidak ikut serta ke mesjid?
Tentunya pertanyaan itu dengan sangat mudah untuk dibantah dan dipatahkan oleh orang tuanya. Anak tentunya tidak memiliki otoritas untuk memaksa sekalipun benar. Disisi lain orang tua terkadang gengsi, dan memberikan  ”pembenaran” atas perintahnya itu walau tidak disertai dengan tindakannya.
Saya sendiri sangat tidak setuju dengan pendapat umum yang mengatakan bahwa ”anak kecil itu polos”. Bagi saya, anak kecil itu tidak polos, anak kecil juga sama halnya dengan manusia pada umumnya. Mereka juga bisa berpikir, juga bisa merasakan kesal, senang dan tentunya juga bisa bertanya-tanya dengan ketidakadilan atau ketidaknyamanan yang diterimanya.
Apakah baik perintah untuk belajar kita keluarkan ketika kita sendiri dalam keadaan duduk santai dan sambil menonton televisi? Bagaimana mungkin perintah itu dengan baik bisa diterima si anak jika kita juga tidak ikut serta menumbuhkan iklim keilmuan itu sendiri?
Saya jadi teringat ketika bertemu dosen saya pada hari sabtu yang lalu. Dosen dan juga senior saya ketika masih duduk di bangku kuliah ini memang menjadi tempat yang enak bagi saya untuk bertukar pikiran. Dalam pertemuan itu, kita saling sharing dan bercerita tentang pengalaman masing-masing.
Dalam pertemuan itu akhirnya kami bercerita tentang OSPEK tahun 2006 yang pernah diselenggarakan oleh angkatan saya. Ketika tahun 2006 kebanyakan angkatan saya yang masuk kuliah tahun 2002 sudah banyak yang menyelesaikan perkuliahannya.
Kami memang belum menerima ijazah dan menjalani proses wisuda. Karena secara kebiasaan di kampus yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk melaksanakan ospek tersebut adalah angkatan yang sudah berkuliah minimal empat tahun, maka secara otomatis penyelenggaraan ospek menjadi tanggung jawab angkatan kami.
Ketika OSPEK itu dilaksanakan, saya sendiri tidak ikut serta dalam kepanitiaan dan proses OSPEK itu sendiri. ketika OSPEK berlangsung, saya sendiri sibuk dalam penelitian indeks prestasi korupsi di Kal-Bar yang dilaksanakan oleh LPS-AIR. Tentunya hal ini bagi saya lebih menarik dan bermanfaat daripada ikut serta dalam OSPEK itu sendiri.
Ketika masih di cap sebagai junior, saya juga tidak suka di OSPEK. Saya sendiri menganut prinsip untuk meninggalkan hal-hal yang banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Prinsip ini juga yang menjadi penyebab saya tidak akan melakukan hal serupa kepada manusia lainnya (khususnya kepada junior-junior saya di kampus). Bagi saya hal ini adalah suatu bentuk pembuktian integritas dan niat akan membaikan kampus itu sendiri. Bagi saya, sangat aneh jika kita dahulu yang tidak suka dan melawan kala di OSPEK tetapi kita juga senang melakukan hal serupa pada orang lain.
Kembali kepada proses OSPEK itu sendiri, saya mendapati cerita yang “menggelikan” dan begitu unik dari sahabat saya Jamil. Ia menceritakan ketika teman-teman angkatan berteriak dan bertanya kepada seorang mahisiswi baru tentang definisi hukum.
Diluar dugaan, mahasiswi baru ini bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan baik. Menurut si mahasiswi ”hukum itu tidak dapat didefenisikan”. Seketika itu senior yang memberikan pertanyaan itu sontak terdiam. Menggelikan bagi saya, seorang senior terdiam dan tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih baik tentang hukum kepada juniornya.
Untungnya ketika peristiwa itu terjadi Jamil langsung menghandle hal tersebut agar senior dan juga panitia tidak kehilangan mukanya. Saya begitu kenal dan akrab dengan Jamil. Tentunya seorang mahasiswi baru tersebut bukanlah lawan yang sepadan jika perdebatan atau diskusi tentang hukum itu dilakukan dengan seorang Jamil.
Saya sampai saat ini masih sering tertawa terpingkal-pingkal ketika saya dan Jamil berbicara tentang hal itu. selain lucu dan menggelikan, bagi saya peristiwa itu sendiri menggambarkan bahwa seorang senior tidak menggambarkan sikap dan perilaku yang pantas bagi seorang senior.
Bagi saya, jauh panggang dari api jika kita ingin memajukan kampus, tetapi seniornya berperilaku seperti itu. otoritas yang ada bukanlah untuk menindas dan menyakiti junior. Tentu akan lebih baik dan bermanfaat jika otoritas itu digunakan untuk membaikan kampus dengan cara memberikan bimbingan dan membantu menciptakan iklim keilmuan di kampus.
Mungkin ada baiknya kita melihat kenapa orang Jepang terkenal bertanggung jawab dan mempunyai rasa malu yang tinggi serta memiliki pengkaderan yang baik terhadap generasi mudanya. Dalam tulisan kali ini saya kembali mengutip artikel yang ditulis Sapto Nugroho yang berjudul ”Pekerjaan Adalah Istri Kedua”.
Dalam tulisannya, ia menceritakan bahwa ”dunia kerja di Jepang ada yang disebut “Senior” dan “Junior”.  Senior disebut “Senpai”, dan junior disebut “Kohai”.  Dimana-mana mungkin juga berlaku kalau junior harus menghormati senior. Akan tetapi di Jepang selain itu yang menonjol adalah bahwa Senpai punya tanggung jawab mendidik Kohai.  Di saat bawahan harus tinggal di kantor (menginap di kantor), maka atasan/senior-pun ikut bersama.  Kesalahan junior menjadi tanggung jawab senior.  Maka sering kali terjadi seorang menteri di Jepang mengundurkan diri karena ada kesalahan bawahannya atau staff-nya.  Jadi sering kita jumpai yang salah bawahan tapi yang meminta maaf di depan umum adalah atasannya.
Pada titik ini saya berfikiran bahwa wajar saja Jepang bisa begitu cepat bangkit dari keterpurukan seusai perang dunia kedua. Bagi saya cerita diatas cukup jelas untuk menjawab kenapa Jepang bisa bangkit begitu cepat dari keterpurukan.
Saya kira alasan bahwa feodalisme dan benih korupsi yang ditinggalkan Belanda hanyalah menjadi ”alasan banci” dari keburukan di Indonesia. Bagi saya, kita termasuk orang yang merugi jika kita tidak bisa belajar dari sejarah. Hemat saya, untuk membaikan Indonesia bukan hanya berhenti pada niat baik. Menjadi lebih penting adalah manifestasi dari niat baik tersebut dalam bentuk tindakan yang membaikan Indonesia.
Saya memang sering kali dikecewakan oleh perilaku orang Indonesia yang mngkritik dan mengutuk atas segala keburukan yang ada, tetapi ketika ditawarkan ”jalan pintas” untuk mencapai posisi atau kualifikasi tertentu, orang tersebut dengan senag hati melakukannya. Bukankah menjadi ironi jika suatu proses yang haram, yang tidak jujur menjadi alasan pembenar untuk membaikan negara ini?

Wednesday, November 23, 2011

BUKAN SAKITNYA TAPI SEBABNYA



Oleh: Hendrasyah Putra

Sudah bosan rasanya ketika saya mendengar keluhan masyarakat tentang berbagai hal buruk yang muncul di negeri ini. bagi saya hal ini sama halnya dengan manusia yang mengeluhkan sakitnya yang tak sembuh-sembuih kepada seorang dokter.
Sakit, siapapun pasti mengeluh kalau dirinya sakit. Tapi apakah hanya sebatas sakit saja yang kita keluhkan dan membiarkan sakit itu datang lagi dan lagi? Tentu bagi manusia yang berfikir hal ini memicunya untuk mencari tahu apa yang menyebabkan dirinya sakit.
Bagi manusia yang berfikir, mencari sebab dari sakit yang dideritanya akan menjadi lebih penting agar si manusia itu dapat menghindari dari penyakit yang sama. Bukankah hal yang seperti ini sebenarnya sudah sering kali kita dengar dengan istilah “lebih baik mencegah dari pada mengobati”.
Jika boleh saya andaikan bahwa obat itu adalah peraturan dan yang menjadi penyakit itu adalah segala keburukan, maka akan timbul sebuah tanda tanya besar. Tanda Tanya dimana obat yang telah di berikan kepada si penderita sakit sudah begitu banyaknya tetapi sakitnya tidak sembuh-sembuh juga.
Saya makin prihatin ketika membaca sebuah pemberitaan di surat kabar yang berjudul “Kasus Korupsi Makin Banyak, KPK Butuh Penyidik dan Jaksa”(www.republika.go.id). Dalam pemberitaan tersebut diceritakan bahwa ketua KPK memberitahukan tentang penambahan personil di KPK  disebabkan karena begitu banyaknya jumlah kasus korupsi di Negeri ini.
Saya sendiri sebenarnya bingung dengan timbulnya fenomena diatas. Idealnya dengan dibentuknya KPK harusnya kejahatan yang luar biasa itu (korupsi) semakin berkurang. Timbul pertanyaan di benak saya, mungkin KPK bukanlah obat atau penangkal yang cukup mujarab bagi penyakit yang kita sebut dengan kejahatan luar biasa itu. Atau mungkin KPK belumlah cukup luar biasa untuk menandingi kejahatan luar biasa itu.
Rasanya hati ini semakin hilang harapan, mungkin hal ini disebabkan gara-gara kebiasaan saya yang selalu mengikuti acara reportase setiap hari Sabtu dan Minggu sore. Acara tersebut sendiri berisikan tentang kecurangan atau kejahatan yang dilakukan oleh Si penjual makanan dengan menambahkan zat berbahaya pada makanan yang dijualnya. Setiap kali saya menonton acara tersebut, saya tak habis pikir, kenapa mereka begitu tega melakukan kejahatan terebut. Dan yang lebih menyakitkan adalah, manusia yang menyakiti itu sadar dan mengetahui jika perbuatannya itu salah.
Dengan alasan orang lain juga seperti itu (sesama penjual makanan) maka cukuplah hal itu menjadi alas an pembenar bagi Si manusia jahat itu untuk melakukan aksinya. Bagi saya hal ini sangat mengerikan. Mengerikan dimana sebagian besar yang menjadi korban dari perbuatan jahat mereka itu adalah anak-anak Indonesia.
Bagaimana mungkin bangsa ini akan menjadi baik jika anak-anak yang menjadi  generasi penerus bangsa di rusak oleh orang-orang tua di negeri ini. Mungkin inilah yang pernah di ramalkan oleh Bung Karno, dahulu Ia pernah mengatakan "Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”.
Saya tidak habis pikir jika melihat kasus korupsi dan kasus makanan yang mengandung zat berbahaya itu. Tidak habis pikir dimana pelaku korupsi itu sendiri didominasi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi atau sudah berkecukupan, sedangkan pelaku penjual makanan yang mengandung zat berbahaya itu didominasi oleh orang-orang yang berpendidikan rendah serta memiliki penghasilan yang pas-pasan.
Bangsa ini selalu mengeluh sakit. Selalu saling menuding. Dan selalu saling menyalahkan. Pada titik ini saya melihat bangsa kita hanya berkutat dengan sakit nya saja. Sepertinya kita lebih senang jika terus mengeluh “sakit” daripada mencari apa yang menyebabkan sakit itu sendiri.
Saya sangat prihatin sebenarnya dengan keadaan seperti ini. keadaan dimana kita lebih mementingkan untuk merubah sistem (struktur) dan mencetak sebanyak-banyaknya peraturan (substansi) yang mengatur sampai ke titik sel sekalipun. Inilah yang saya katakan bahwa kita sibuk dengan pembuatan obat daripada melakukan mencari tahu sebab dan melakukan pencegahan.
Tanpa kita sadari pembuatan obat yang diperentukan untuk melawan segala penyakit yang diderita bangsa ini menjadi sia-sia. Menjadi sia-sia dimana bangsa ini selalu mengeluh kesakitan karena penyakit yang dideritanya itu semakin mengganas. Kenapa saya katakana mengganas? Mengganas disini saya maksudkan dalam perilaku orang Indonesia yang “doyan mengakali” peraturan dan sistem yang telah dibuat itu.
Perilaku seperti ini (doyan mengakali) bukan lagi tend to corrupt, tetapi sudah pasti corrupt absolutely. Dalam titik ini, saya melihat ada sesuatu yang telah ditinggalkan bangsa ini. dan hal itu sebenarnya sangat sangat penting.
Kita telah melupakan yang namanya kultur. Kita secara perilaku sudah menghapuskan yang namanya gotong-royong, tolong-menolong dan saling mnghormati. Selama ini kita hanya terfokus untuk membuat dan memperbaiki substansi (peraturan) dan struktur (sistem), tetapi kita lupa betapa pentingnya untuk terlebih dahulu memperbaiki kultur (moral).
Bagi saya, rusaknya moral adalah sumber dari segala terciptanya keburukan di negeri ini. saya kira dana otonomi khusus yang tidak memberikan dampak kesejahteraan dan kemajuan pada kasus di Papua cukup memberikan jawaban kenapa rusaknya moral menjadi sumber dari terciptanya keburukan itu.
Bangsa ini saya kira tidak ada pilihan lain selain memperbaiki moralnya terlebih dahulu, dan itupun jika kita memang serius hendak memajukan negeri ini.  
Mungkin ada yang beranggapan hal ini sangat berat untuk dilakukan. Saya pun sering kali mendapat cibiran dan cercaaan ketika saya mengatakan memperbaiki moral itu utama. Saya sendiri meyakini hal itu, bukankah dahulu Rasulullah SAW turun ke bumi untuk memperbaiki moral terlebih dahulu, bukan struktur atau substansi. Bagi saya hal yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk membaikan negeri ini adalah dengan memperbaiki diri kita terlebih dahulu. Dan bukankah mengetahui sebabnya dan mencegahnya akan lebih baik daripada mengobatinya? (*Pontianak Post, 22 November 2011)